Sabtu, 24 Maret 2012


Model CL (Cooperative Learning)
Model pembelajaran ini masih termasuk model pembelajaran yang berbasis konstruktivisme, terutama konstruktivisme sosial dari Vygostky. Seperti halnya Piaget Vygotsky berpendapat bahwa siswa membentuk sendiri pengetahuan. Pengetahuan siswa bukanlah kopi dari apa yang mereka temukan di dalam lingkungan, tetapi sebagai hasil dari pemikiran dan kegiatan siswa sendiri, dengan bantuan alat bahasa. Kedua ahli tersebut berbeda dalam cara memperhatikan pertumbuhan pengetahuan dan pemahaman anak tentang dunia sekitar, Piaget lebih memberikan tekanan pada proses mental anak dan Vygotsky lebih menekankan pada peran pengajaran dan interaksi sosial pada perkembangan pengetahuan (Howe and Jones, 1993).

Read More..
Paparan berikut adala elaborasi dari Yusuf (2003) tentang Vygostky. Menurutnya, sumbangan penting yang diberikan Vygotsky dalam pembelajaran adalah konsep zone of proximal development (ZPD) dan scaffolding. ZPD adalah tingkat perkembangan sedikit diatas tingkat perkembangan seseorang saat ini. Vygotsky lebih yakin bahwa fungsi mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul dalam kerjasama antar individu sebelum fungsi mental yang lebiih tinggi terserap pada individu tersebut. Sedangkan konsep Scaffolding berarti memberikan pada siswa sejumlah besar bantuan selama tahap-tahap awal pembelajaran kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan pada anak tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera setelah ia dapat melakukannya (Slavin, 1994)
Ada dua implikasi utama teori Vygotsky dalam pendidikan (Howe and Jones, 1993). Pertama adalah perlunya tatanan kelas dan bentuk pembelajaran kooperatif antar siswa, sehingga siswa dapat berinteraksi disekitar tugas-tugas yang sulit dan saling memunculkan strategi-strategi pemecahan masalah yang epektif didalam masing-masing ZPD mereka. Kedua, pendekatan Vygotsky dalam pengajaran menekankan Scaffolding, dengan semamkin lama siswa semakin bertanggung jawab terhadap pembelajaran sendiri. Ringkasnya, menurut teori Vygotsky, siswa perlu belajar dan bekerja secara berkelompok sehingga siswa dapat saling berinteraksi dan diperlukan bantuan guru terhadap siswa dalam kegiatan pembelajaran.
Pengertian dan Ciri Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran berdasarkan faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan jumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membentu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
Beberapa ciri dari pembelajaran kooperatif adalah: (a) setiap siswa memiliki peran, (b) terjadi hubungan interaksi langsung diantara siswa, (c) setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan juga teman-teman sekelompoknya, (d) guru membantu mengembangkan keterampilan-keterampilan interpersonal kelompok, (e) guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan (Carin, 1993).
Tujuan pembelajaran kooperatif
Tujuan pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya (Slavin, 1994). Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidaktidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum oleh ibrahim yaitu:
a.       Hasil belajar akademik
Para pemegang model ini telah menunjukan bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Disamping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, pembelajran kooperatif dapat memberikan keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.
b.      Penerimaan terhadap perbedaan individu
Tujuan lain model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya.
c.       Pengembangan keterampilan sosial
Tujuan penting ketiga pembelajaran kooperatif adalah, mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi
Keterampilan Kooperatif
Dalam pembelajaran kooperatif siswa tidak hanya mempelajari materi saja, tetapi siswa atau peserta didik juga harus mempelajari keterampilan-keterampilan yang khusus yang disebut keterampilan kooperatif.
a.    Keterampilan Kooperatif Tingkat Awal
1)      Menggunakan kesepakatan, maksudnya menyamakan pendapat yang berguna untuk meningkatkan hubungan kerja dalam kelompok
2)      Menghargai kontribusi, menghargai berarti memperhatikan atau mengenal apa yang dapat dikatakan atau dikerjakan anggota lain.
3)      Mengambil giliran dan berbagai tugas
Pengertian ini mengandung arti bahwa setiap anggota kelompok bersedia menggantikan dan bersedia mengemban tugas/tanggung jawab tertentu dalam kelompok.
4)      Berada dalam kelompok
Maksud disini adalah setiap anggota tetap dalam kelompok kerja selama kegiatan berlangsung.
5)      Berada dalam tugas
Maksudnya meneruskan tugas yang menjadi tanggungjawabnya, agar kegiatan dapat dilaksanakan sesuai waktu yang dibutuhkan.
6)      Mendorong partisipasi
Maksudnya mendrong semua anggota kelompok untuk memberikan konstribusi terhadap tugas kelompok.
7)      Mengundang orang lain
Maksudnya adalah meminta orang lain untuk berbicara dan berpartisipasi terhadap tugas.
8)      Menyelesaikan tugas dalam waktunya
9)      Menghormati perbedaan individu
Maksudnya bersikap menghormati terhadap perbedaan budaya, suku, ras, atau pengalaman dari semua siswa atau peserta didik.
b.    Keterampilan tingkat menengah
Keterampilan tingkat menengah meliputi menunjukan penghargaan dan simpati, mengungkapkan ketidak setujuan dengan cara dapat diterima, mendengarkan dengan arif, bertanya, membuat ringkasan, menafsirkan, mengorganisir, dan mengurangi ketegangan.
c.    Keterampilan tingkat mahir
Keterampilan tingkat mahir meliputi mengelaborasi, memeriksa dengan cermat, menanyakan kebenaran, menetapkan tujuan, dan berkompromi.
Urutan langkah-langkah perilaku guru menurut model pembelajaran kooperatif yang diuraikan oleh Arends (1997) dalam Yusuf (2003) sebagai berikut.
Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif
FASE
KEGIATAN GURU

Fase 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan me-motivasi siswa belajar
Fase 2
Menyajikan informasi
Guru menyajikan informasi kepada siswa baik dengan peragaan (demonstrasi) atau teks
Fase 3
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar
Guru menjelaskan siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan perubahan yang efisien
Fase 4
Membantu kerja kelompok dalam belajar
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas
Fase 5
Mengetes materi
Guru mengetes materi pelajaran atau kelompok menyajikan hasil-hasil pekerjaan mereka
Fase 6
Memberikan penghargaan
Guru memberikan cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

Pendekatan dalam Pembelajaran Kooperatif
Lebih lanjut Yusuf (2003) memaparkan bahwa walaupun prinsip dasar pembelajaran kooperatif tidak berubah, terdapat beberapa variasi dari model tersebut. Ada empat pendekatan pembelajaran kooperatif, disini akan diuraikan secara ringkasan masing-masing pendekatan tersebut.
Student Teams Achievement Division (STAD)
STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin dan merupakan pendekatan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Guru yang menggunakan STAD, juga mengacu kepada belajar kelompok siswa, menyajikan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu menggunakan presentasi verbal atau teks. Siswa dalam suatu kelas tertentu dipecah menjadi kelompok dengan anggota 4-5 orang, setiap kelompok haruslah heterogen, terdiri dari laki-laki dan perempuan, berasal dari berbagai suku, memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
Pembelajaran Kooperatif Tipe Investigasi Kelompok
Pendekatan ini dikembangkan pertama kali oleh Thelan, pendekatan ini memerlukan norma dan struktur kelas yang lebih rumit daripada pendekatan yang lebih terpusat pada guru. Dalam penerapan investigasi kelompok ini guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 5 atau 6    siswa yang heterogen. Dalam beberapa kasus, kelompok dapat dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban persahabatan atau minat yang sama dalam topik tertentu. Selanjutnya siswa memilih topik untuk diselidiki, melakukan penyelidikan yang mendalam atas topik yang dipilih itu, selanjutnya menyiapkan dan mempresentasikan laporannya kepada seluruh kelas.
Pembelajaran Kooperatif Tipe Pendekatan Struktural
Pendekatan ini dikembangkan oleh Spencer Kagen dan kawan-kawannya. Pendekatan ini memberi penekanan pada penggunaan struktur tertentu yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Struktur yang dikembangkan oleh Kagen ini menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok kecil dan lebih dicirikan oleh penghargaan kooperatif, dari pada penghargaan individual.
Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
Jigsaw pertama dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot Aronson dan teman-teman di Universitas Texas, dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkins (Arends, 2001). Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang tterdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan bagian tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya. Kelompok dalam pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang secara heterogen dan bekerjasama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain.  
Untuk melaksanakan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, disusun langkah-langkah pokok sebagai berikut: (1) pembagian tugas, (2) pemberian lembar ahli, (3) mengadakan diskusi, (4) mengadakan kuis. Adapun rencana pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini diatur sebagai berikut.
a.     Membaca: siswa memperoleh dan membaca topik-topik ahli.
b.      Diskusi dalam kelompok ahli: siswa dengan topik-topik ahli yang sama bertemu untuk mendiskusikan topik tersebut
c.       Diskusi dalam kelompok asal: ahli kembali ke kelompok asalnya untuk menjelaskan topik kepada kelompoknya
d.      Kuis: siswa memperoleh kuis individu yang mencakup semua topik
e.       Penghargaan kelompok: penghitungan skor kelompok dalam menentukan penghargaan kelompok.
Perbandingan antara keempat pendekatan pembelajaran kooperatif atau  yang lebih sering disebut sebagai tipe pembelajaran kooperatif dapat dilihat pada tabel berikut.
Perbandingan Karakteristik Tipe Pembelajaran Kooperatif

STAD
Jigsaw
Penyelidikan kelompok
Pendekatan struktur
Tujuan kognitif
Informasi akademik
Sederhana
Informasi akademik sederhana
Informasi akademik tingkat tinggi dan keterampilan inquiri
Informasi akademik sederhana
Tujuan sosial
Kerja kelompok dan kerja sama
Kerja kelompok dan kerja sama
Kerja dalam kelompok kompleks
Keterampilan kelompok dan keterampilan sosial
Struktur tim
Kelompok belajar heterogen dengan 4-5 orang anggota
Kelompok belajar heterogen dengan 5-6 orang anggota, menggunakan pola “kelompok asal” dan “kelompok ahli”
Kelompok belajar dengan 5-6 orang anggota homogen
Bervariasi, berdua, bertiga, kelompok 4-6 orang anggota
Pemilihan topik pelajaran
Biasanya guru
Biasanya guru
Biasanya siswa
Biasanya guru
Tugas utama
Siswa dapat menggunakan lembar kegiataan dan saling membantu untuk menuntaskan materi belajarnya
Siswa mempelajari materi dalam “kelompok ahli”, kemudian membantu anggota “kelompok asal” mempelajari materi itu
Siswa menyelesaikan inquiri kompleks
Siswa mengerjakan tugas-tugas sosial dan kognitif
Penilaian
Tes mingguan
Bervariasi, dapat berupa tes mingguan
Menyelesaikan proyek dan menulis laporan, dapat menggunakan tes uraian.
Bervariasi
pengakuan
Lembar pengetahuan dan publikasi lain
Publikasi lain
Lembar pengakuan dan publikasi lain
Bervariasi

0 komentar:

Poskan Komentar

tinggalkan komentar