Sabtu, 24 Maret 2012

STRATEGI MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA
A. Kemampuan berbicara : Konsep dan Teori
Berbicara merupakan proses berbahasa lisan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan, mereflesikan pengalaman, dan berbagi informasi (Ellis, 1989). Ide merupakan esensi dari apa yang kita bicarakan dan kata-kata merupakan untuk mengekspresikannya. Berbicara merupakan proses yang kompleks karena melibatkan berpikir, bahasa, dan keterampiulan sosial.
Oleh karena itu, kemampuan berbahasa lisan merupakandasar utama dari pengajaran bahasa karena kemampuan berbahasa lisan (1) merupakan mode ekspresi yang digunakan, (2) merupakan bentuk kemampuan peertama yang biasanya dipelajari anak-anak, (3) merupakan tipe kemampuan berbahasa yang paling umum dipakai. Dari 2796 bahasa didunia, semuanya memiliki bentuk bahasa lisan, tetapi hanya 153 yang mengembangkan bahasa tulisnya (Stewig, 1983).
Para pakar mendefinisikan kemampuan berbicara secara berbeda-beda. Tarigan 1985) menyebutkan bahwa berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata yang mengekspresikan, menyatakan, serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Batasan ini diperluas sehingga berbicara merupakan sistem tanda-tanda yang dapat didengar (audioble) yang terlihat (fisible).

Read More..
Dalam kegiatan menyimak, aktifitas kita diawali dengan mendengar dan diakhiri dengan memahami atau menanggapi. Kegiatan berbicara tidak demikian, kegiatan berbicara diawali dari suatu pesan yang harus dimiliki pembicara yang akan disampaikan kepada penerima pesan agar penerima pesan dapat menerima atau memahami isi pesan tersebut. Penyampaian isi pikirandan perasaan, penyampaian informasi, gagasan, serta pendapat yang selanjutnya disebut pesan (message) ini diharapkan sampai ke tujuan secara tepat.
Dalam menyampaikan pesan, seseorang menggunakan bahasa, dalam hal ragam bahasa lisan. Seseorang yang menyampaikan pesan tersebut mengharapkan  agar penerima pesan dapat  mengerti atau memahaminya. Apabila isi pesan itu dapat diketahui oleh penerima pesan, maka akan terjadi komunikasi antara pemberi pesan dan penerima pesan. Komunikasi tersebut pada akhirnya akan menimbulkan pengertian atau pemahaman terhadap isi pesan bagi penerimanya.
Pemberi pesan sebenarnya dapat juga disebut pembicara dan penerima pesan disebut juga sebagai pendengar atau penyimak atau disebut juga dengan istilah lain komunikan dan komunikator. Peristiwa proses penyampaaian pesan secara lisan seperti itu disebut berbicara dan peristiwa atau proses penerima pesan yyang disampaikaan secara lisan itu disebut menyimak. Dengan demikian, berbicara adalah keterampilan menyaampaikan pesan melalui bahasa lisan, sedangkan menyimak adalah keterampilan menerima pesan yang disampaikan secara lisan.
Hakikat berbicara
Berbicara secara umum dapat diartikan suatu maksud penyampaian maksud (ide,pikiran, isi hati) seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahassa lisan sehingga maksud tersebut dapat dipahami oleh orang lain (Depdikbud, 1984/1986:7). Pengertiannya secara khusus banyak dikemukakan oleh para pakar. Tarigan (1983:15), misalnya mengemukakan berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan.
Berbicara pada hakikatnya merupakansuatu proses berkomunikasi sebab didalamnya terjadi pemindahan pesan dari suatu sumber  ke tempat lain. Proses komunikasi itu dapat digambarkan dalam bentuk diagram berikut ini (Rofiuddin, 1997).

Umpan balik/feed back
 
Komunikan/receiver
 
Komunikator/sender
 
Message/pesan
 
Channel/saluran
 
Symbol/lambang
 
 
















Dalam proses komunikasi terjadi pemindahan pesan dari komunikator (pembicara) kepada komunikan (pendengar). Komunikator adalah seseorang yang memiliki pesan. Pesan yang akan disampaikan kepada komunikan lebih dahulu diubah kedalam simbol yang dipahami oleh kedua belah pihak. Simbol tersebut memerlukan saluran agar dapat dipindahkan kepada komunikan. Bahasa lisan adalah alat komunikasi berupa simbol yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. saluran untuk memindahkannya adalah udara. Selanjutnya simbol yang disalurkan lewat  udara diterima oleh komunikan. Karena simbol yang disampaikan itu dipahami oleh komunikan, ia dapat mengeerti pesan yang disampaikan oleh komunikator. Karena simbbol yang disampaikan itu dipahami oleh komunikan, ia dapat mengerti pesan yang disampaikan oleh komunikator.
Tahap selanjutnya, komunikan memberi umpan balik kepada komunikator. Umpan balik adalah reaksi yang timbul setelah komunikan memahami pesan. Reaksi dapat berupa pesan atau tindakan. Dengan demikian, komunikasi yang berhasil ditanddai dengan adanya interaksi antara komunikator dengan  komunikan.
Berbicara sebagai salah satu bentuk komunikasi akan mudah dipahami dengaan cara memperbandingkan diagram komunikasi dengan diaggram peristiwa berbahasa. Brooks (Tarigan, 1983:12) menggambarkan alur peristiwa bahasa berikut ini.















 
          PEMBICARA                                                             PENYIMAK

         Pemahaman (Praucap)                                                Maksud (Pastucap)








 


      Penyandian (Encoding)                                              Pembacaan sandi (Decoding)







 
       Fonasi (Pengucapan)                                                    Audisi (Pendengaran)


 


Transisi (Peralihan)

Berbicara merupakan bentuk prilaku manusia yang memanfaatkan faktor-faktor fisik, psikologis, neurologis, semantik dan linguistik. Pada saat berbicara seseorang memeanfaatkan faktor fisik, yaitu alat ucap untuk menghasilkan bunyi bahasa. Bahkan organ tubuh lain seperti kepala, tangan dan roman muka pun dimanfaatkan dalam berbicara. Stabilitas emosi, misalnya tidak hanya berpengaruh terhadap kualitas suara yang dihasilkan oleh alat ucap tetapi juga berpengaruh terhadap keruntutan bahan pembicaraan.
Berbicara juga tidak terlepas dari faktor neurologis, yaitu jaringan saraf yang menghubungkan ottak kecil dengan mulut, telinga, dan organ tubuh lain yang ikut dalam aktivitas berbicara. Begitu pula faktor semantik yang berhubungan dengan makna, dan faktor linguistik yang berkaitan dengan struktur bahasa selalu berperan dalan kegiatan berbicara. Bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap dan kata-kata harus disususn menurut aturan tertentu agar bermakna.
Berbicara merupakan tuntunan kebutuhan manusia sebaagai mahluk sosial sehingga dapat berkomunikasi dengan sesamanya. Steward dan Kenner Zimmer (Depdikbud, 1984/85:8) memandang kebutuhan akan komunikasi yang efektif dianggap sebagai suatu yang esensial untuk mencapai  keberhasilan dalam setiap individu, baik aktifitas individu maupun kelompok. Kemampuan berbicara sangat dibutuhkan dalam berbagai kehidupan keseharian kita. Oleh karena itu, kemampuanini perlu dilatihkan  secara rekursif sejak jenjang pendidikan sekkolah dasar.
Proses berbicara
Dalam proses belajar berbahasa disekolah, anak-anak mengembangkan kemampuan secara vertikal tidak hanya horizontal. Maksudnya, mereka sudah dapat mengungkapkan pesan secara lengkap meskipun belum lengkap secara strukturnya menjadi benar, pilihan katanya semakain tepat, kalimat-kalimatnya semakin bervarias, dan sebagainya. Dengan kata lain, perkembangan tersebut tidak secara horizontal mulai dari fonem, kata, frase, kalimat, dan wacana seperti halnya jenis tataran linguistik.
Bentuk aktivitas yang dapat dilakukan di dalam kelas untuk meningkatkan kemampuan berbahasa lisan siswa antara lain : memberikan pendapat atau tanggapan pribadi, berrcerita, menggambaarkan orang atau barang, menggambarkan posisi, menggambarkan proses, memberikan penyjelasan, menyampaikan atau mendukung argumenttasi.
Aspek yang mempengaruhi kemampuan berbicara
Dalam rangka pembinaan keterampilan berbicara, hal yang perlu mendapat perhatian guru dalam keefektifan berbicara menurut Arsyad ada dua aspek, yakni : aspek kebahasaan mencakup : (a) lafal, (b) intonasi, tekanan, dan ritme, dan (c) penggunaan kata dan kalimat, dan aspek non-kebahasaan yang mencakup : (a) kenyaringan suara, (b) kelancaran, (c) sikap berbicara, (d) gerak dan mimik, (e) penalaran, (f) santun berbicara.
Jalongo (1992) menyatakan pendapatnya bahwa dalam praktek berbahsa baik dalam bentuk reseptif maupun produktif/ekspresif komponen kebahasaan akan selalu muncul. Komponen kebahasaan tersebut adalah : (a) fonologi, (b) sintaksis, (c) semantik, ddan (d0 pragmatik.
Berkaitan dengan kemampuan fonologis anak di tuntut untuk menguasai sistem bunyi. Tingkah laku yang tampak pada anak adalah pemahaman serta pemproduksian bunyi-bunyi lingual, seperti tekanan, nada, kesenyapan, atau ciri-ciri prosodi yang lain.
Komponen sintaksis menurut penguasaan gramatikal. Tingkah laku sintatik padda diri anak adalah pengenalan struktur ucapan, serta pemproduksian kecepatan struktur ujaran.
Komponen semantik berkaitan dengan penguasaan sisteem makna. Tingkah laku semantik pada diri anak adalah pemahaman akan makna, sedangkan produksinyaa berupa ujaran yang bermakna. Sedangkan komponen pragmatikmenurut anak akan sistem interaksi sosial makna. Tingkah laku pragmatik yang tampak paada diri anak  adalah pemahaman terhadap implikasi sosial dari suatu ujaran. Produksinya berupaa ujaran-ujaran yang sesuai denagn situasi sosial, situasi sosial itu berhubungan dengan : (a) siapa yang berbicara, (b) dengan siapa berbiccara, (c) apa yang dibicarakan, (d) bagaimana membicarakan, (e) kapan dan dimana dibicarakan, (f) menggunakan media apa dalam membicarakan (Hymes,1971).
Dari aspek kebahasaan dan non-kebahasaan yang telah disebutkan diatas, guru dapat mengefektifkan  penggunaaan serta mengontrol kesalahan yang terjadi pada siswa.sehingga siswea dalam melaksanakan tindakan berbicara dapat menghindari kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi.
 Hubungan menyimak dengan berbicara
Menyimak dan berbicara merupakankegiatan komunikasi dua arah yang  langsung, merupakan komunikasi tatap muka (Brooks, 1964:134). Keterkaitan antara berbicara dan menyimak tersebut dapat terlihat pada hal-hal berikut.
(a)    Ujaran (speech) biasanya dipelajari dari menyimak dan meniru (imitasi0; oleh karena iitu, model atau contoh yang di simak atau di rekam oleh sang anak penting dalam penguasaan serta kecakapan berbicara.
(b)   Kata-kata yang akan dipakai dan dipelajjari oleh sang anak biasanya ditentukan oleh perangsang (stimulus) yang ditemuinya.
(c)    Ujaran sang anak mencermikan pemakaian bahasa di rumah dan dalam masyarakat tempatnya hidup; hal ini terlihat nyata dalam ucapan, intonasi, kosa kata, penggunaan kata-kata, dan pola-pola kalimat
(d)   Anak yang masih kecil lebih dapat memahami kalimat-kalimat yang jauh lebih panjang dan rumit dari pada kalimat yang diucapkannya.
Dengan demikian, meningkatkan keterampilan meenyimak berartipula membantu meningkatkan kualitas berbicara seseorang.

B. STRATEGI MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA
            Sejak memasuki dunia sekolah, anak dihadapkan pada dua rentangan yakni, rentangan kemampuan bahasa dan rentangan sikap berbahasa. Pada salah satu ujung rentangan ia ingin mengungkapkan pikirannya dan pada ujung rentangan lain ia takut untuk berbicara. Maka dalam hal ini guru mempunyai tanggung jawab untuk memperkuat kepercayaan berbicara anak-anak, karena kepercayaan dalam berbicara itu sangat dibutuhkan dalam belajar keterampilan berbahasa lisan.
            Penanaman sikap percaya untuk berbicara itu berkembang sangat lamban, sehingga dibutuhkan waktu yang cukup lama serta ketelatenan guru dalam membimbing siswa. Guru perlu menciptakan suasana yang memungkinkan  siswa untuk praktik menggunakan bahasa lisan. Guru harus dapat mendorong siswa untuk mendeskripsikan, mengklasifikasikan, menginformasikan, merencanakan, dan membandingkan berbagai hal secar lisan.
            Ellis (1989) menyatakan pendapatnya bahwa respon guru pada bahasa yang digunakan anak akan memberikan  nilai bahwa guru menempatkan belajar dan bahasa bersama-sama. Cara yang digunakan guru dapat membangun kepercayaan diri siswa untuk bebicara antara lain guru harus dapat memilih waktu yang tepat untuk mendiskusikan penggunaan bahasa yuang tepat atau gaya penyajian yang benar.
KegiatanYang Memberikan Kesempatan Kepada Anak Untuk Latihan Menggunakan Bahasa Lisan
            Tompkins dan Hoskisson (1991) membagi kegiatan berbahsa lisan sebagai berikut :
a)      Kegiatan berbicara informal, meliputi percakaapan, menunjuk dan menceritakan, serta diskusi.
b)      Krgiatan berbicara interpretative meliputi, pengisahan cerita dan pembacaan drama.
c)      Kegiatan yang lebih formal meliputi laporan lisan, wawancara dan debat.
d)     Kegiatan dramatic, meliputi bermain drama, bermain peran, bermain boneka tangan, penulisan naskah dan produksi teater, dan sebagainya.
Menurut Ellis, Standal, pennau dan Rummel (1989) kegiatan yang dapat memberiakan kesempatan kepada anak untuk berlatih menggunakan bahasa lisan antara lain diskusi,pelaporan, pengisahan cerita, paduan suara, drama, improvusasi, dan kegiatan komunikasi lisan yang lainnya.
Adaoun cara mengembangkan kemampuan berbicara siswa dapat dilakukan dengan :
a)      Menggali miant siswa
b)      Melatih kefasiahn dan kejelasan berbicara
c)      Kecakapan menyimak
d)     Mendiagnosa keadaan siawa
e)      Masalah suara (Suryanto, 1987)
Pailine Gibbons (1993) menyarankan bahwa untuk mengembangkan bahasa lisan siswa, guru harus mengusahakan kelas yang interaktif. Dalam kelas interaktif tersebut terdapat aktiviatas yang menuntut anak untuk berpartisipasi serta menggunakan kemampuan, pengalaman serta pengetahuannya.
Pelaporan
            Laporan lisan merupakan suatu cara untuk mendorong anak supaya mampu mengungkapkan apa yang ingin disampaikan kepada orang lain. Wujud laporan itu dapat berupa informasi, deskripsi, keyakinan, dan penjelasan, winiasih (1996).
            Gibbons (1993) menyarankan kegiatan yang dapat mendukung aktivitas berbicara dalam pelaporan berupa informasi, yaitu dengan menceritakan kembali pengalaman pribadi. Wujud laporan yang berupa deskripsi ia sarankan dengan mendeskripsikan orang atau barang serta posisinya, misalnya denga permainan haling rintang. Wujud pelaporan yang berupa “meyakinkan orang lain” disarankan menggunakan aktivitas menyampaikan dan mendukung argumentasi. Hal itu dapat dilakukan dengan mengadakan aktivitas permainan pulau terpencil atau permainan hadiah. Sedangkan yang berupa penjelasan ia menyarankan adanya aktivitas permainan kelompok.
Diskusi
            Diskusi kelas atau kelompok kecil dapat dilakukan setiap hari. Diskusi dapat digunakan untuk merencanakan, menyampaikan dan menggali masalah serta mengenbangkan ekpresi verbal. Dalam diskusi yang anggotanya kecil sangat efektif untuk mendorong kemampuan berbicara siswa. Siswa secara bebas dapat mengungkapkan gagsan serta mereka berani mengambil resiko kesalahan untuk mengemukakan pendapat walaupun tidak lengkap. Mereka dapat memainkan peran yang beragam dalam diskusi yang anggotanya kecil. Hal tersebut disebabkan bahasa yang digunakan informal, dan anggotanya hanya 3-5 orang.
            Diskusi kelompok kecil dapat diorganisasikan untuk membicarakan berbagai topik. Moffect (1968) mengajukan tiga jenis topic diskusi, yakni : topic bilangan, kronologi, dan topic perbandingan.
1)      Topik bilangan, baik untuk memperkenalkan anak pada butir-butir dan katagori tertentu, misalnya jenis binatang, tumbuhan, transportasi, mata pencaharian dan sebagainya.
2)      Topik kronologi, memperkenalkan anak pada urutan kejadian atau peristiwa. Misalnya menyusun rencana karya wisata, mendiskusikan peristiwa kecelakaan, melakukan dan mengorganisasikan eksperimen karya ilmiah dan sebagainya.
3)      Topik perbandingan, memperkenalkan anak pada perbandingan berbagai hal, misalnya membandingkan keindahan bunga, binaatang dan alat-alat rumah tangga. Perbandingan tersebut menyangkut persamaan dan perbedaan benda, barang atau hal .
Dalam melaksanakan diskusi, anak-anak memerlukan panduan dari guru. Untuk pertama kalinya anaka dapat melakukan diskusi, guru memandu. Mereka perlu mengenal struktur percakapan dan memerlukan berbagai kesempatan untuk memperoleh keterampilan diskusi. Coody mengemukakan garis besar panduan diskusi untuk anak-anak.
1)      Siswa perlu memiliki pengetahuan tentang topic.
2)      Guru atau siswa membuka topic dengan membuat pertanyaan pembukaan.
3)      Tanggung jawab guru untuk mengelola diskusi dengan cara mengatur pertanyaan dan mendorong partisipasi.
4)      Pada waktu tertentu guru dapat menyuruh siswa menjelaskan dan memperluas gagasan.
5)      Guru perlu menggambarkan pemikiran dan informasi semua segi persoalan melalui pertanyaan. Guru harus netral.
6)      Guru tetap mempunyai peranan dalam mendiskusikan topic.
7)      Guru harus memberikan cukup waktu kepada siswanya untuk menjawab. Siswa perlu waktu untuk berpikir, menganalisis, dan merangkai informasi sebelum mereka berbicara. Penelitian menunjukan bahwa semakin lama waktu tunggu untuk menjawab, menunjukan tingkat berpikir anak.
8)      Guru perlu mendorong partisipasi anak yang kurang berbicara.
9)      Pada awal simpulan butir-butir utama dilakukan oleh guru, tetapi selanjutnya dilakukan siswa.
Menceritakan Kembali atau Reproduksi Cerita dengan Bahasa Sendiri
            Reproduksi cerita dapat dimulai dari guru atau menunjuk salah satu siswa untuk membacakan suatu cerita di depan kelas. Siswa yang ada di dalam kelas disuruh menyimak, dan setelah selesai dibacakan siswa yang lain disuruh menceritakan kembali dengan menggunakan bahasanya sendiri. Tujuan aktivitas ini untuk melatih siswa menggunakan bahasa dan kata-kata sendiri dalam berbicara.
            Apabila cara tersebut masih mengalami hambatan, maka guru dapat memberikan bimbingan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada cerita tersebut. Dengan pertanyaan-pertanyaan iti kemungkinan siswa kan teringat kembali sesuatu yang trasa hilang. Hal ini akan membuat senang siswa karena mendapat bibmbingan dari guru untuk mendapatkan kembali sesuatu yang hilang tersebut.
Paduan Suara (Choral Speaking)
            Paduan suara mengacu pada sekelompok anak yang menyuarakan suatu bagian dari karya sastra secara bersama-sama. Keuntungan dari paduan suara ini adalah meningkatkan efektivitas ungkapan lisan, menambah minat anak pada sastra, dan meningkatkan kesenangan anak.
            Selain itu paduan suara juga merupakan teknik yang baik untuk membangun rasa percaya diri. Saat mereka menyarakan bersama-sama dengan teman, anak-anak tidak merasa takut atau rendah diri, bahkan mereka mungkin akan merasa senang.
Improvisasi
            Improvisasi ini digunakan untuk melatih berbicara, mengembangkan imajinasi dan menentukan makna. Karena improvisasi adalah permainan tanpa naskah, dari hal yang sederhana, diberi konflik, perwatakan, suasan dan emosi. Misalnya improvisasi orang yang senang.
Kegiatan Komunikasi Lisan yang Lain
            Kegiatan komunikasi yang lain dapat mendorong aktivitas berbicara siswa, yaitu membawakan acara, member petunjuk, menggunakan telepon, mengadakan wawancara, bermain drama, bermain peran, seminar, memperkenalkan diri, menyampaikan komentar, menyanggah atau mempertahankan pendapat, menolak permintaan dan lain-lain. Pengalaman-pengalaman latihan itu akan mengarahkan siswa pada kemahiran berbicara.
            Keterampilan berbicara perlu dimiliki seorang siswa, agar dapat berkomunikasi dengan lingkungannya. Karena bila tidak, ia akan meras terkucil dari lingkungannya. Begitu pentingnya peranan berbicara secara eqfektif maka siswa perlu mendapat pembinaan. Pembinaan keteramoilan berbicara di sekolah perlu memperhatikan beberapa aspek, yakni aspek kebahasaan dan aspek non kebahasaan.
            Suasana interaktif dibutuhkan dalam membina keterampilan berbicara. Suasana tersebut memungkinkan adanya interaksi yang terjadi antara guru-siswa, siswa-guru, dan siswa-siswa. Respon guru dibutuhkan dalam interaksi ini, sehingga timbul dorongan percaya diri pada anak untuk berbicara.
            Selain kegiatan pelaporan, diskusi, reproduksi cerita, paduan suara, improvisasi, dan komunikasi lisan yang lain, interaksi yang dapat mendukung kemahiran berbicara antara lain kegiatan berikut.
            Adapun strategi lain yang dapat dilakukan dalam upaya meningkatkan kemampuan berbicara siswa antara lain sebagai berikut :
1)      Ulang – Ucap
Model ucapan adalah suara guru atau rekaman suara guru. Model ucapan yang diperdengarkan kepada siswa harus dipersiapkan dengan teliti. Suara guru harus jelas, intonasinya tepat, dan kecepatan berbicara normal.
2)      Lihat – Ucap
Guru memperlihatkan kepada siswa benda tertentu kemudian siswa menyebutkan nama benda tersebut. Benda-benda yang diperlihatkan dipilih dengan cermat oleh guru disesuaikan dengan lingkungan siswa. Bila bendanya tidak ada atau tidak memungkinkan dibawa ke dalam kelas, benda tersebut digantikan oleh tiruannya atau gambarnya.
3)      Memerikan
Memerikan berarti menjelaskan, menerangkan, melukiskan atau mendeskripsikan sesuatu. Sisiwa disuruh memperhatikan sesuatu benda atau gambar benda, kesibukan lalu lintas, melihat pemandangan atau gambarnya dengan teliti. Kemudian siswa diminta menjelaskan atau memeriksa apa yang telah dilihatnya secara lisan.
4)      Menjawab Pertanyaan
Siswa yang susah atau malu berbicara, dapat dipancing untuk berbicara dengan menjawab sejumlah pertanyaan mengenai dirinya misalnya mengenai nama, usia, tempat tinggal, pekerjaan orang tua.
5)      Bertanya
Melalui pertanyaan, siswa dapat menyatakan keingintahuannya terhadap sesuatu hal. Tingkat atau jenjang pertanyaan yang diutarakan melambangkan tingkat kedewasaan siswa. Melalui pertanyaan-pertanyaan yang sistematis siswa dapat menemukan yang diinginkannya. Anak kecil yang belajar mengenali lingkungannya sering bertanya, ini apa ? itu apa ? salah satu permainan bahasa dapat digunakan untuk latihan bertanya ialah Twenty Questions.
6)      Pertanyaan Menggali
Salah satu cara membuat banyak berbicara ialah pertanyaan menggali. Jenis pertanyaan merangsang siswa banyak berfikir. Di samping memancing siswa berbicara, pertanyaan menggali juga dapat digunakan untuk menilai kedalaman dankeluasan pemahaman sisewa terhadap suatu masalah.
7)      Melanjutkan Cerita
Dua, tiga, empat orang siswa bersama-sama menyusun cerita secara spontan. Kadang-kadang guru boleh juga terlibat dalam kegiatan ini, misalnya guru mengawali cerita, dan cerita itu dilanjutkan siswa kedua, ketiga dan diakhiri oleh siswa berikutnya. 
8)      Menceritakan Kembali
Guru mempersiapkan bahan bacaan, siswa membaca bahan itu dengan seksama. Kemudian guru meminta siswa menceritakan kembali isi cerita dengan kata-katanya sendiri.
9)      Percakapan
Percakapan adalah pertukaran pikiran atau pendapat mengenai suatu topic antara dua atau lebih pembicara. Dalam percakapan ada dua kegiatan, yakni menyimak dan berbicara silih berganti. Suasana dalam percakapan biasanya akrab, spontan dan wajar.
10)  Para frase
Prafase berarti alih bentuk, misalnya memprosakan puisi atau sebaliknya mempuisikan prosa. Di sekolah kegiatan memprosakan puisi sering dilakukan daripada mempuisikan prosa.
11)  Reka Cerita Gambar
Sebuah gambar atau rangkaian beberapa gambar merupakan sarana ampuh untuk memancing, mendorong atau memotivasi seorang siswa berbicara. Penghayatan atau pemahaman terhadap suatu gambar atau seri gambar akan berbeda antara satu siswa dengan siswa yang lainnya.
12)  Bercerita
Kegiatan bercerita menuntun siswa kearah pembicaraan siswa yang lebih baik. Lancar bercerita berarti lancer berbicara. Dalam bercerita siswa dilatih berbicara jelas, intonasi yang tepat, urutan kata sistematis, menguasai masa mendengarkan dan berperilaku menarik.
13)  Memberi Petunjuk
Memberi petunjuk mengerjakan sesuatu, petunjuk mengenai arah atau letak sesuatu tempat menuntut sejumlah persyaratan. Petunjuk harus jelas, singkat dan tepat. Siswa yang sering berlatih member petunjuk secara lisan, akan mendapat keuntungan keterampilan berbicara.
14)  Melaporkan
Melaporkan berarti menyampaikan gambaran, lukisan atau peristiwa terjadinya sesuatu hal. Hal yang dilaporkan daapt berwujud bermacam-macam, misalnya pertandingan olahraga.
15)  Bermain Peran
Dalam bermain peran, siswa bertindak, berlaku dan berbahasa seperti orang yang diperankannya. Dari segi bahasa, berarti siswa harus mengenal dan dapat menggunakan ragam-ragam bahasa.
16)  Wawancara
Wawancara adalah percakapan dalam bentuk Tanya jawab, pewawancara biasanya wartawan atau penyiar radio atau televise. Orang yang diwawancara adalah orang yang berprestasi, ahli atau istimewa. Melalui kegiatan latihan wawancara siswa dapat mengembangkan keterampilan berbicaranya.
17)  Diskusi
Diskusi adalah proses perlibatan dua atau lebih individu yang berinteraksi secara verbal dan tatap muka, mengenai tujuan yang sudah dicapai melalui tukar pendapat. Diskusi merupakan sarana yang ampuh bagi pengembanagan keterampilan berbicara. Berlatih didkusi berarti berlatih berbicara.
18)  Bertelepon
Bertelepon adalah percakapan anatara pribadi dalam jarak jauh. Komunikasi ini sejenis komunikasi lisan jarak jauh. Ciri khas bertelepon ialah berbicara jelas, singkat dan lugas.
19)  Dramatisasi
Dramatisasi atau bermain drama adalah mementaskan lakon atau cerita. Biasanya cerita yang dilakonkan sudah dalam bentuk drama. Melalui dramatisasi siswa dilatih mengekspresikan perasaan dan pikirannya dalam bentuk bahasa lisan.
Evaluasi Berbicara
            Pengecekan kemampuan berbicara siswa dilakukan dengan mengacu pada kompetensi dasar sebagaimana ditetapkan dalam kurikulum. Adapun bentuk evaluasi yang dilakukan sebaiknya lebih kontekstual melalui pemberian tes. Bentuk tes yang tepat dipilih guru antara lain tes tes performasi (performance test). Dengan demikian, evaluasi yang dilakukan dirasakan anak lebih bermakna, dan guru mendapatkan data kemampuan siswa secara otentik. Adapun bentuk evaluasi lainnya sebagai berikut :
1)      Pengulangan
Melalui rekaman diperdengarkan kalimat pendek dan siswa diminta mengulang.
2)      Hafalan
Siswa mengucapkan suatu sajak yang sudash dihafalkan. Guru menilai dengan menggunakan pedoman penilaian yang sudah dipersiapkan, misalnya dengan suatu daftar penilaian seperti berikut.
    Aspek

Siswa
Lafal
Kelancaran
Kejelasan
Intonasi
Jumlah






Untuk memberikan nilai dapat digunakan skala 1-5 untuk setiap aspek yang dinilai.
3)      Percakapan terpimpin
Guru menceritakan situasi percakapan, misalnya antara guru dan siswa. Dua orang siswa diminta melakukan percakapan itu. Untuk membantu ingtan siswa, diberikan beberapa kata kunci.
4)      Percakapan Bebas/Wawancara
Tes ini merupakan tes berbicara yang paling wajar. Tes ini berbentuk bebas antara siswa dengan guru atau dengan pewawancara yang baik. Jika digunakan cara terakhir (dengan pewawancara) guru sama sekali tidak mencampuri percakapan. Ia dapat duduk dibelakang siswa sambil memberikan penilaian yang lebih objektif dan cermat. Pemberian nilai tes berbicara dalam bentuk wawancara ini harus dilakukan secara langsung.
a.       Bunyi suara merupakan suatu faktor yang penting dalam meningkatkan cara pemakaian kata-kata sang anak.
b.      Berbicara dengan bantuan alat-alat peraga akan menghasilkan penangkapan informasi yang lebih baik pada pihak penyimak. Umumnya anak mempergunakan bahasa yang didengar serta disimaknya (Dawson {et all}, 1963:29; Tarigan, 1985:2)

0 komentar:

Poskan Komentar

tinggalkan komentar